Doomscrolling: Kecanduan Scroll yang Diam-Diam Menguasai Hidup Kita

Halo Sobat IT! 👋🏻

Di era digital seperti sekarang, hampir tidak ada hari tanpa layar. Bangun tidur langsung cek HP, sebelum tidur pun masih scroll media sosial. Awalnya hanya ingin melihat update terbaru, tapi tanpa sadar waktu terus berjalan. Tiba-tiba satu jam habis tanpa hasil yang jelas.

Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, kebiasaan menggulir layar tanpa henti, terutama untuk mengonsumsi konten yang memicu emosi seperti berita negatif, drama viral, atau konflik di internet. Meski terlihat sepele, kebiasaan ini bisa berdampak besar pada kehidupan kita.

 

Apa Itu Doomscrolling dan Mengapa Terjadi

Doomscrolling adalah aktivitas mengonsumsi informasi secara berlebihan tanpa tujuan jelas, biasanya dipicu oleh rasa penasaran atau keinginan untuk terus update.

Secara psikologis, manusia memang cenderung tertarik pada informasi yang bersifat ancaman atau masalah. Ini adalah bagian dari insting bertahan hidup. Di dunia digital, insting ini “dimanfaatkan” oleh sistem algoritma.

Setiap kali kita menemukan konten baru, otak melepaskan dopamin, hormon yang memberikan rasa senang. Karena kita tidak tahu konten berikutnya akan menarik atau tidak, kita terus scroll tanpa henti. Pola ini mirip seperti kecanduan.

 

Peran Algoritma Media Sosial

Media sosial tidak hanya menampilkan konten secara acak. Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang paling mungkin membuat kita bertahan lebih lama.

Konten yang memicu emosi seperti marah, sedih, atau penasaran biasanya lebih sering muncul. Hal ini membuat kita terus terlibat secara emosional dan sulit berhenti.

Fitur seperti:

  • infinite scroll
  • autoplay video
  • notifikasi real-time

semakin memperkuat kebiasaan ini. Tanpa sadar, kita “dikunci” dalam alur konsumsi konten tanpa akhir.

Dampak Doomscrolling dalam Kehidupan

Kebiasaan ini tidak hanya membuang waktu, tetapi juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Secara mental, kita bisa menjadi lebih mudah cemas dan stres karena terlalu sering terpapar informasi negatif. Secara kognitif, fokus dan konsentrasi menurun karena otak terbiasa  dengan informasi cepat dan singkat. Secara fisik, kualitas tidur terganggu akibat penggunaan layar yang berlebihan, terutama sebelum tidur. Yang paling berbahaya, doomscrolling menciptakan ilusi produktivitas. Kita merasa sedang mencari informasi, padahal sebenarnya hanya menghabiskan waktu.

 

Kenapa Doomscrolling Jadi Tren Masa Kini

Fenomena ini menjadi viral karena hampir semua orang mengalaminya, terutama generasi muda yang tidak lepas dari internet.

Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain:

  • Akses internet yang cepat dan tanpa batas
  • Konten yang terus diperbarui setiap detik
  • Budaya FOMO (fear of missing out)
  • Tekanan sosial untuk selalu update

Akibatnya, kita merasa harus selalu online agar tidak tertinggal, meskipun tidak semua informasi penting bagi kita.

 

Cara Mengatasi Doomscrolling Secara Realistis

  1. Menghentikan doomscrolling tidak harus dilakukan secara ekstrem. Yang penting adalah mengelola kebiasaan secara perlahan.
  2. Mulai dengan membatasi waktu penggunaan aplikasi setiap hari. Gunakan fitur screen time untuk membantu memantau.
  3. Kurangi notifikasi yang tidak penting agar tidak terus terganggu.
  4. Tentukan waktu bebas layar, misalnya satu jam sebelum tidur.
  5. Ganti kebiasaan scroll dengan aktivitas lain seperti membaca, olahraga, atau belajar hal baru.

Yang paling penting adalah kesadaran. Ketika kita sadar sedang doomscrolling, kita punya kontrol untuk berhenti.

 

Penutup

Doomscrolling adalah salah satu sisi gelap dari kemajuan teknologi. Di satu sisi, kita memiliki akses informasi tanpa batas. Di sisi lain, kita bisa terjebak dalam arus yang melelahkan secara mental.Di era digital, bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang kita konsumsi, tetapi seberapa bijak kita memilihnya.Karena pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu hidup kita, bukan menguasainya.

Jadi, lain kali saat kamu mulai scroll tanpa tujuan, coba berhenti sejenak. Bisa jadi yang kamu butuhkan bukan informasi baru, tapi waktu untuk benar-benar hadir dalam hidupmu sendiri.